Arsip Tag: aksara kawi

Perkembangan Aksara Kawi dan Asal Usul Aksara Jawa

Perkembangan Aksara Kawi dan Asal Usul Aksara Jawa

Naskah pertama beraksara Jawa yang ditemukan adalah Serat Sunan Bonang atau Serat Syeh Bari atau Het Book van Bonang (awal abad 16 M) malah lebih tua dibanding naskah  beraksara mirip Kawi  atau beraksara Budha (awal abad 16 – akhir abad 18). Apa yang bisa disimpulkan ?

Halaman awal Serat Sunan Bonang dengan aksara jawa awal
Halaman awal Serat Sunan Bonang

 

Koleksi naskah merapi merbabu dengan aksara gunung atau budha
Koleksi naskah merapi merbabu

 

Kesimpulan saya berdasar naskah di atas adalah: Aksara Kawi pasca runtuhnya Majapahit mengalami dua arah perkembangan. Satu, perubahan revolusioner (meliputi bentuk dan sistem tatatulis, termasuk penambahan aksara rekan dan juga penggunaan yang bukan lagi untuk menulis bahasa Kawi tetapi untuk bahasa jawa baru dan malah bahasa Arab)=> menjadi aksara Jawa. Dua, perubahan evolusi/lambat menjadi aksara Gunung Merapi-Merbabu yang tak terlalu jauh berbeda dengan aksara kawi (baik bentuk, tatatulis, maupun penggunaan yang sebagian besar masih untuk menulis bahasa kawi).

Karena aksara Jawa pada saat itu (jaman Demak) ditujukan menulis bahasa Jawa (dan juga Arab, dengan tambahan rekan) maka wajar tidak seluruh set karakter aksara kawi diambil oleh aksara Jawa, pun ada sebagian yang secara bunyi/pengucapan sudah berbeda dengan aksara Kawi.

Di sisi lain, aksara gunung Merapi-Merbabu tetap mempertahankan keaslian bunyi dan kelengkapan set karakter aksara Kawi, karena memang lebih banyak ditujukan untuk menulis dalam bahasa Kawi.

Jaman berjalan, sampai suatu ketika para ahli yang ingin menyalin naskah kakawin berbahasa kawi ke dalam naskah beraksara Jawa agak terkendala keterbatasan aksara Jawa. karena tentu saja aksara jawa jaman Demak tak selengkap aksara Kawi, ditambah ada distorsi bunyi. Maka para ahli menjadikan aksara Bali lontar kakawin sebagai rujukan untuk menyusun aksara Jawa lengkap dengan urutan “kaganga” sesuai karakter set aksara Kawi, dimana memang aksara Bali sudah terlebih dahulu melengkapi aksaranya untuk menyalin kakawin bahasa Kawi aksara kawi ke dalam lontar aksara Bali, karena memang Bali sangat kuat dalam tradisi penyalinan naskah kuna ke dalam lontar.

Naskah kuna yang sudah disalin dengan aksara jawa cetak (rujukan aksara Jawa untuk bahasa Jawa kuna adalah lontar beraksara Bali) antara lain:

Kiduᶇ Harsa-Wijaya Berg, 1931 Kidung/MJ prose
Kiduᶇ Sunda Berg, 1927 Kidung/MJ prose
Kiduᶇ Sundāyana Berg, 1928 Kidung/MJ prose
Pamañcaᶇah Berg, 1929 Kidung/MJ prose
Sorandaka Berg, van den 1939 Kidung/MJ prose
Rangga Lawe Berg, 1930 Kidung/MJ prose
Pararaton Brandes, 1920 Kidung/MJ prose
Aji Darma Drewes, 1975 Kidung/MJ prose
Bhomakāwya Friederich, 1852 Kawawin
Bhomāntaka Teeuw, 1946 Kawawin
Agastyaparwa Gonda, 1933-1936 OJ prose
Bhīṣmaparwa Gonda, 1936 OJ prose
Brahmāṇḍapurāṇa Gonda, 1932 OJ prose
Brahmāṇḍapurāṇa kakawin Gonda, 1932 Kawawin
Bhāratayuddha Gunning, 1903 Kawawin
Tantri Kāmandaka Hooykaas, 1931 H-J prose
Kutaramanawa Jonker, 1885 Kidung/MJ prose
Ādiparwa Juynboll, 1906 OJ prose
Āśramawāsaparwa Juynboll, 1893 OJ prose
Mośalaparwa Juynboll, 1893 OJ prose
Prasthānikaparwa Juynboll, 1893 OJ prose
Wirāṭaparwa Juynboll, 1912 OJ prose
Saᶇ Hyaᶇ Kamahāyanikan Kats, 1910 OJ prose
Kuñjarakarṇa Kern, 1901 H-J prose
Rāmāyaṇa Kern, 1900 Kawawin
Wṛttasañcaya Kern, 1875 Kawawin
Nāgarakṛtāgama Pigeaud, 1960-1963 Kawawin
Tantu Paᶇgĕlaran Pigeaud, 1924 H-J prose
Calon Araᶇ Poerbatjaraka, 1926a Kidung/MJ prose
Dewa Ruci Poerbatjaraka, 1940 Kidung/MJ prose
Nirartha-Prakṛta Poerbatjaraka, 1951 Kawawin
Nītiśāstra Poerbatjaraka, 1933a Kawawin
Smaradahana Poerbatjaraka, 1931 Kawawin
Arjunawiwāha Poerbatjaraka, 1926b Kawawin
Nawaruci Prijohoetomo, 1934 Kidung/MJ prose
Sri Tañjuᶇ Prijono, 1938 Kidung/MJ prose
Sārasamuccaya Raghu Vira, 1962 OJ prose
Waᶇbaᶇ Wideha A Robson, 1971 Kidung/MJ prose
Ślokāntara Sharada Rani, 1957 OJ prose
Jñānasiddhānta Soebadio, 1971 OJ prose
Sudamala Stein Callenfels, van 1925 Kidung/MJ prose
Wṛhaspatitattwa Sudarshana Devi, 1957 OJ prose
Arjunawijaya Supomo, 1977 Kawawin
Korawāśrama Swellengrebel, 1936 H-J prose
Hariwaᶇśa Teeuw, 1950 Kawawin
Lubdhaka = Śiwarātrikalpa Teeuw, et al., 1969 Kawawin

Aksara itu hidup dan berkembang sangat tergantung kepada penggunanya. Oleh Van der Molen (ahli naskah kuno) Aksara Merapi-Merbabu diperkiraan berhenti pada akhir abad 18 karena tidak ada lagi penggunanya.

Aksara-aksara lokal di nusantara, jika tak ada lagi “penggunanya”, maka juga tinggal menunggu saatnya untuk tidur panjang, atau mati suri, atau bahkan betul-betul mati, dan akhirnya tinggal sejarah.

Aksara Jawa masih digunakan pada saat ini, bahkan sudah terdaftar di UNICODE.  Tetapi, sekali lagi, perkembangannya akan ditentukan oleh penggunanya sendiri.

Aksara jawa yang berkembang saat ini seolah menjadi ada dua.

  1. Aksara Jawa dengan urutan “hanacaraka” sebagai perkembangan dari aksara Jawa naskah Sunan Bonang di atas, dan masih aktif diajarkan di sekolah2.
  2. Aksara jawa yang digunakan untuk menyalin naskah kuna  berbahasa Jawa kuna., dalam hal ini saya sebut aksara jawa “kaganga” karena menganut urutan dan kelengkapan aksara Kawi, sebagai aksara induknya, dimana bentuk-bentuk karakter untuk melengkapinya merujuk kepada aksara Bali lontar (yang digunakan untuk menyalin turun temurun naskah lontar Bali yang pada aslinya naskah berupa aksara Kawi).

Aksara Jawa hanacaraka (carakan) dengan aksara Jawa ‘kaganga’ bisa jadi bentuknya sama, tetapi bisa jadi pula bunyi/pelafalannya serta fungsinya sudah berbeda.

 

Save

Sejarah/Asal Usul Wayang Kulit dan Aksara Jawa Modern

Sejarah/Asal Usul Wayang Kulit dan Aksara Jawa Modern

Ada masa dimana sejarah perkembangan/perubahan wayang di Jawa berjalan seiring dengan perkembangan/perubahan aksara jawa. Kita ketahui bahwa sebelum ada wayang kulit, di Jawa sudah wayang sebelumnya. Demikian juga sebelum ada aksara Jawa modern seperti yang kita lihat saat, di Jawa sudah ada aksara sebelumnya.

Sejarah Wayang (copast dari suatu  fanpage di Facebook)

Sebelum kebudayaan Hindu memasuki wilayah nusantara, khususnya pulau Jawa, kesenian wayang sudah ada (dalam bentuknya yang asli).

Kemudian kesenian wayang mulai berkembang saat masa Hindu Jawa. Masa Hindu Jawa adalah masa transisi masyarakat Jawa ketika itu masih belum melepaskan sepenuhnya tradisi animisme dan dinamisme.

Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri.

Sekitar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem ceritera wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.

Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang Purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan Wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan kraton diselenggarakan pagelaran wayang.

Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambahi bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati keindahannya. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan. Kisah-kisah yang dipagelarkan umumnya merupakan lakon dalam Mahabharata dan Ramayana atau kisah seputar kerajaan Jenggala.

Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, kebetulan sekali dikaruniai seorang putera yang mempunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara. Bakat puteranya ini dimanfaatkan oleh Raja Brawijaya untuk menyempurkan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya. Dengan demikian pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang Beber semakin semarak.

Cerita terkenal yang acapkali mengilhami pembuatan wayang Beber selain kisah Purwa –yang didominasi oleh pemujaan terhadap Wisnu–, adalah kisah nyata tentang cinta antara Raden Panji Asmarabangun, putra mahkota kerajaan Jenggala dan Galuh Candra Kirana, seorang putri dari Kediri. Candra Kirana diyakini merupakan titisan Dewi Ratih (dewi asmara) dan Asmarabangun adalah inkarnasi dari Dewa Kamajaya (dewa asmara). Dalam kisah ini terdiri dari deretan kisah perjalanan pencarian dan pertemuan pasangan tersebut dalam berbagai penyamaran saat berkelana.Sebut saja kisah Panji Semirang hingga Ande-ande Lumut. Kisah ini menjadi bait puisi sekaligus tembang berjudul “Smaradahana” (Api Cinta). Akhir cerita pasangan tersebut akhirnya menikah dan lahirlah Raja Putra, kemudian Panji Asmorobangun menjadi Raja Jenggala bergelar Sri Kameswara atau Prabu Suryowiseso atau Hino Kertapati (Inu Kertapati).

Pagelaran wayang Beber hingga kini dilakukan hanya pada saat ruwatan, acara ritual menghalau kekuatan buruk dan khusus mendatangkan hal-hal baik semata. Keberadaan 1-2 wayang Beber kuno masih ditemukan di beberapa daerah, antara lain di Wonosari, Yogyakarta dan Museum Mangkunegaran di Solo (Surakarta), Jawa Tengah serta di Donorojo, kawasan Pacitan, Jawa Timur.

Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Pada masa itu sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri.

Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia.

Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai di kaki. Wayang dari kulit kerbau ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.

Pada masa itu terjadi perubahan secara besar-besaran di seputar pewayangan. Di samping bentuk wayang baru, diubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir/layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun di sana-sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Adapun wayang Beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.

Pada jaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang berwarna keemasan.

Pada jaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog. Bentuk dasar wayang Gedog bersumber dari wayang Purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang / Kediri, Ngurawan dan Singasari. Menurut pendapat Dr. G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata “Gedog” berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan ceritera-ceritera Kepahlawanan dari “Kudawanengpati”atau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pada pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog.

Sunan Kudus salah seorang Wali di Jawa menetapkan wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana.

Berhubung wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan. Yang dijadikan lakon pokok adalah ceritera Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.

Untuk melengkapi jenis wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang Golek dari kayu. Cerita diambil dari kisah seputar Islam. Dengan menggunakan kisah Menak, –sebagai sebutan bagi Amir Hamzah, salah satu paman Nabi Muhammad–. figur-figur yang terkenal dalam wayang golek adalah : Umar Maya, Umar Madi, Lamdahur, dan sebagainya. Pengisahan ini dilakukan khusus di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah buku berjudul ‘Serat Menak’ ditulis oleh Kyai Yosodipuro I dari Kraton Surakarta. Selain itu, lakon pakem lainnya tetap diambil dari wayang Purwa (umumnya di Jawa Barat) dan diiringi dengan gamelan slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab.

Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan Topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceriteranya diambil dari pakem wayang Gedog yang akhirnya disebut dengan topeng Panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang Purwa.

Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang Purwa dan wayang Gedog. Wayang ditatah halus dan wayang Gedog dilengkapi dengan keris. Di samping itu baik wayang Purwa maupun wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati, wayang Beber yang semula dipergunakan untuk sarana upacara ruwatan diganti dengan wayang Purwa dan ternyata berlaku hingga sekarang. Pada masa itu pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan. Perwujudan Buta Cakil ini merupakan sengkalan yang berbunyi: Tangan Jaksa Satataning Jalma ( 1552 J / 1670 M ). Dalam pagelaran wayang Purwa tokoh Buta Cakil merupakan lambang angkara murka. Bentuk penyempurnaan wayang Purwa oleh Sultan Agung tersebut diakhiri dengan pembuatan tokoh raksasa yang disebut Buta Rambut Geni, yaitu merupakan sengkalan yang berbunyi Urubing Wayang Gumulung Tunggal: ( 1553 J / 1671 M ).
Sekitar abad ke 17, Raden Pekik dari Surabaya menciptakan wayang Klithik, yaitu wayang yang dibuat dari kayu pipih, mirip wayang Purwa. Dalam pagelarannya dipergunakan pakem dari ceritera Damarwulan, pelaksanaan pagelaran dilakukan pada siang hari. Topik cerita yang disuguhkan diambil dari kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, yakni Jenggala, Kediri dan Majapahit dengan pusat cerita antara lain kisah tentang Raden Panji dan Cindelaras, anak desa penyabung ayam. Damarwulan adalah tokoh heroik dari Majapahit yang berhasil membunuh musuh kerajaan bernama Menakjinggo dari kerajaan Blambangan (kini Banyuwangi), hingga kemudian ia pun diperbolehkan menikahi Ratu Kencana Wungu, meski ia telah beristri Anjasmara, anak sang patih kerajaan (Loh Gender), hingga akhirnya diangkat menjadi raja.

Pada tahun 1731 Sultan Hamangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain yaitu wayang Wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit.
Dalam pagelaran mempergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabarata. Perbedaan wayang Wong dengan wayang Topeng adalah ; pada waktu main, pelaku dari wayang Wong aktif berdialog; sedangkan wayang Topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.

Pada jaman pemerintahan Sri Hamangkurat IV; beliau dapat warisan Kitab Serat Pustakaraja Madya dan Serat Witaraja dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Isi buku tersebut menceriterakan riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra yang bertahta di negara Mamenang / Kediri.

Kemudian pindah Kraton di Pengging. Isi kitab ini mengilhami beliau untuk menciptakan wayang baru yang disebut wayang Madya. Ceritera dari Wayang Madya dimulai dari Prabu Parikesit, yaitu tokoh terakhir dari ceritera Mahabarata hingga Kerajaan Jenggala yang dikisahkan dalam ceritera Panji. Bentuk wayang Madya, bagian atas mirip dengan wayang Purwa, sedang bagian bawah mirip bentuk wayang gedog.

Semasa jaman Revolusi fisik antara tahun 1945 – 1949, usaha untuk mengumandangkan tekad pejuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu usaha ialah melalui seni pedalangan. Khusus untuk mempergelarkan ceritera- ceritera perjuangan tersebut, maka diciptakanlah wayang Suluh.

Wayang Suluh berarti wayang Penerangan, karena kata Suluh berarti pula obor sebagai alat yang biasa dipergunakan untuk menerangi tempat yang gelap. Bentuk wayang Suluh, baik potongannya maupun pakaiannya mirip dengan pakaian orang sehari-hari.Bahan dipergunakan untuk membuat wayang Suluh ada yang berasal dari kulit ada pula yang berasal dari kayu pipih. Ada sementara orang berpendapat bahwa wayang suluh pada mulanya lahir di daerah Madiun yang di ciptakan oleh salah seorang pegawai penerangan dan sekaligus sebagai dalangnya. Tidak ada bentuk baku dari wayang Suluh, karena selalu mengikuti perkembangan jaman. Hal ini disebabkan khususnya cara berpakaian masyarakat selalu berubah, terutama para pejabatnya .

Kini, beragam wayang lahir, tumbuh dan terdapat di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jawa, Sunda, Bali, Lombok, dan Sumatera. Wayang Kulit terdapat pula di Kedu, Tejokusuman, Ngaben, Surakarta, Banyumas dan Cirebon. Selain wayang Gedog, ada wayang Sadad. Di samping wayang Madya, ada wayang Krucil/ Karucil, juga ada wayang Sasak, wayang Kaper, wayang Wahyu, wayang Intan, wayang Suket (Rumput), wayang Revolusi. Sebagian ragam wayang tersebut masih tersimpan di Museum Mpu Tantular di Surabaya dan Museum Wayang di Jakarta. Koleksi lainnya di museum ini adalah wayang Golek berukuran besar dan mini, serta berbagai jenis topeng. Di samping wayang dari nusantara, di museum ini disertakan pula koleksi dari manca negara meliputi boneka (puppet) dari Kelantan (Malaysia), Suriname, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggris, Amerika dan Thailand. [SS Listyowati]

 

Adapun sejarah perkembangan aksara Jawa kami ringkas saja.

Amati interval tahunnya.
Periode sasi Kerajaan:
Majapahit 1293-1479 M
Demak 1478 – 1549 M
Pajang 1549 – 1587 M
Mataram 1587 – 1677 M
Kartasura 1680 – 1742 M

Prasasti yang ditemukan dan aksara yang digunakan:
Prasasti Ngadoman 1449 M (Aksara Kawi)
Prasasti Pamintihan 1473 M (Aksara Kawi)
Prasasti Petak 1486 M (Aksara Kawi)
Prasasti Gubuk Malang 1541 M (Aksara Kawi)

Naskah dan aksara yang digunakan
Serat Sunan Bonang 1500-an M (Aksara Jawa Baru) => jaman Demak – Pajang
Naskah Merapi Merbabu 1600-1700-an (Aksara Budha) => jaman Mataram – Kartosura

Akan kita lihat dimana ada masa dimana aksara Kawi, aksara Budha (yang masih Mirip Kawi) dan aksara Jawa Baru digunakan sejaman.

kaligrafijawa
Ilustrasi cerita  Ajisaka dengan hanacaraka-nya

 

Jika wayang kulit (jaman Demak) merupakan bentuk modifikasi kreatif revolusioner dari wayang beber, maka aksara Jawa modern (Jaman Demak) juga merupakan bentuk modifikasi kreatif revolusioner dari aksara kawi.(jaman Majapahit).

Pakem cerita dan cara memainkan juga mengalami modifikasi dari wayang beber ke wayang kulit. Demikian juga dalam hal aksara, ada modifikasi tatatulis dari aks kawi ke aksara Jawa modern.

Dan sepertinya para Wali jaman Demak mempunyai peran besar dalam modifikasi wayang dan aksara tersebut. Di daerah Merapi Merbabu (yang lepas dari pengaruh para Wali), aksara yang digunakan (aksara Budha) tak banyak mengalami modifikasi (masih mirip Kawi).

Kesimpulan kami hanya sederhana saja; “Setiap masa mempunyai hak untuk menorehkan sejahnya sendiri”.

Nah, pada jaman globalisasi karena kemajuan teknologi dan informasi ini, kita juga berhak membuat sejarah sendiri baik terhadap wayang maupun terhadap aksara Jawa.

Tak perlu khawatir soal pelestarian aksara karena naskah-naskah kuno saat ini aman di museum-museum, bahkan sudah banyak pula yang dibuat versi digitalnya dan telah tersebar di dunia maya.

Perkara yang lebih penting dari pelestarian adalah “apakah ada keinginan/upaya untuk menggunakan aksara Jawa dalam penulisan kepentingan masa kini” . Jadi permasalahannya adalah pengembangan.

Ada sahabat yang bertanya: ” Njuk saiki askara Jawa arep dicakne nggo ngapa, sing arep nulis sapa, sing gelem maca sapa?, tulisan kok wujude pating plungker, angel diwaca, ndlujur ora nganggo spasi, ndadak mikir yen maca, blas ora praktis”.

hehe, saya hanya bisa senyum …

 

Paribasan Jawa terjemahan Kawi

Paribasan dengan terjemah Indonesia aksara kawi

꧎a[botTelkK[roank¿
Abot telak karo anak,
mu=z}mB|gPz[nN[d[w,[aorz}mB|gHn[kK.
mung ngrembug pangané dhéwé, ora ngrembug anaké.

꧋ꦲꦚ ꦩꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦶꦁꦏꦤ꧀ ꦢꦶꦫꦶ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ꧉
Hanya mementingkan diri sendiri.

?a[folLezkribusi[kK,
Adol lenga kari busiké,
zefumHpapaw[kK[d[wmlh[aor [komnNn¿,
ngedum apa-apa awaké dhéwé malah ora komanan.

꧋ꦱꦼꦤꦁ ꦧꦼꦧꦂꦒꦶ꧈ ꦠꦥꦶ ꦭꦸꦥꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦢꦶꦫꦶ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ꧉
Senang berbagi, tapi lupa bagian diri sendiri.

?ad=ad=[t[t[sS [amB|n\
Adhang-adhang tètèsé embun.
avJgkH[kbr=mu=s[kHo[lh[ao [lh[a.
njagakaké barang mung sak olèh-olèhé.

꧋ꦩꦼꦁꦲꦫꦥ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦏꦼꦢꦤꦾꦂ ꦱꦗ꧉
Mengharap sekedarnya saja.

?afig=,afigu=,afigun.
Adigang, adigung, adiguna.
zenFelL[k kkuwtT[nN,kluau/r[nN lnKpinTe/r[nN.
Ngendelaké kakuwatané, kaluhurané lan kapinterané

꧋ꦩꦼꦤ꧀ꦠꦁꦩꦼꦤ꧀ꦠꦝ꧉
Mentang-mentang.

?aji[go[d=ogri=.
Aji godhong garing.
wi[sHoranaji[n,a[s/obzet¿,
wis ora ana ajiné, asor banget

꧋ꦲꦶꦤ ꦢꦶꦤ꧉
Hina dina.

?anctu/mu=ku/,
Ana catur mungkur.
[aor m}fuli gunemMi= liyn¿,
Ora mreduli guneming liyan.

꧋ꦩꦼꦁꦲꦶꦤ꧀ꦢꦫꦶ ꦧꦼꦒꦸꦂꦤ꧀ꦗꦶꦁ꧉
Mengindari bergunjing.

?anfaul[tT[aoranbegJ[n,
Ana daulaté ora ana begjané,
axpNemukbegJn¿ni=[aorsif.
arep nemu kabegjan, ning ora sida.

꧋ꦥꦸꦚ ꦥꦼꦭꦸꦮꦁ꧈ ꦠꦥꦶ ꦠꦏ꧀ ꦢꦶꦩꦤ꧀ꦥ꦳ ꦄꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧉
Punya peluang, tapi tak dimanfaatkan.

?angulansemut¿
Ana gula ana semut,
a=ge/ank[mlikKn¿mesQia[kh[w=osi= pdtek.
angger ana kamélikan, mesthi akèh wong sing padha teka.

꧋ꦄꦢ ꦱꦸꦩ꧀ꦧꦼꦫ꧀ ꦉꦗꦼꦏꦶ ꦩꦏ ꦧꦚꦏ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦠꦔꦶ꧉
Ada sumber rejeki maka banyak yang mendatangi.

ꦱꦭꦩ꧀ ꦄꦏ꧀ꦰꦫ ꦗꦮ
Iqra Hanacaraka